Site icon BeritaTribun24

IHSG Anjlok, Ini Langkah Bijak Investor Pemula

IHSG Anjlok

IHSG Anjlok, Ini Langkah Bijak Investor Pemula

IHSG Alami Penurunan Tajam Hingga Sekitar 8 Persen, Memicu Penghentian Sementara Perdagangan (Trading Halt) Di Bursa Efek Indonesia (BEI). Penurunan ini menjadi salah satu koreksi terbesar dalam beberapa waktu terakhir, yang mengejutkan banyak investor. Termasuk pemula yang belum berpengalaman menghadapi volatilitas pasar modal.

Tentu saja, melihat grafik portofolio berubah merah dalam satu hari bisa menimbulkan kecemasan dan bahkan panik. Namun, penurunan tajam seperti ini bukanlah fenomena yang sepenuhnya baru di pasar saham. Sebelumnya pun IHSG pernah mengalami koreksi signifikan dan trading halt akibat sentimen pasar.

Mengapa IHSG Bisa Anjlok Tajam?

Salah satu penyebab utama koreksi tajam kali ini berasal dari pengumuman MSCI (Morgan Stanley Capital International) yang memicu kekhawatiran investor global terhadap isu investability atau ketercukupan data dan transparansi pasar modal Indonesia. MSCI sempat membekukan penyesuaian indeks untuk saham Indonesia karena masalah struktur kepemilikan dan keterbukaan data. Sentimen ini memicu aksi jual besar-besaran, terutama oleh investor asing, yang pada akhirnya menekan IHSG tajam.

Selain itu, penurunan indeks yang ekstrem memicu mekanisme trading halt. Yaitu penghentian perdagangan sementara yang otomatis di terapkan ketika IHSG turun lebih dari batas tertentu. Sebuah langkah untuk memberi waktu pasar mencerna berita dan mengurangi volatilitas ekstrem.

Reaksi Dasar untuk Investor Pemula Ketika IHSG Anjlok

Bagi investor pemula yang mungkin belum menghadapi situasi seperti ini sebelumnya, reaksi awal biasanya adalah panik — dan ini wajar. Namun, penting untuk mengetahui langkah yang lebih bijak agar keputusan investasi tetap rasional dan tidak merugikan secara emosional maupun finansial. Berikut adalah panduan yang di rekomendasikan untuk investor pemula ketika IHSG anjlok:

  1. Kendalikan Emosi — Jangan Langsung Menjual Saham

Kerugian yang Anda lihat di aplikasi investasi saat IHSG turun adalah rugi di atas kertas (unrealized loss). Kerugian itu hanya menjadi nyata (realized loss) ketika Anda menjual saham pada harga rendah tersebut. Selama Anda belum menjual, tetap ada peluang harga pulih seiring waktu, terutama jika portofolio Anda berorientasi jangka panjang.

2. Kembalikan Fokus pada Rencana Investasi Awal

Ingat kembali tujuan awal investasi Anda: apakah untuk jangka panjang seperti pensiun atau pendidikan anak? Jika iya, tekanan jangka pendek seperti penurunan IHSG tidak seharusnya mengubah strategi Anda secara drastis. Investasi saham idealnya di lihat dari perspektif jangka panjang, bukan reaksi harian terhadap harga pasar.

  1. Evaluasi Kondisi Keuangan Pribadi

Sebelum mempertimbangkan langkah lanjutan, pastikan Anda mengecek:

  1. Manfaatkan Strategi Rata-Rata Biaya (Dollar–Cost Averaging)

Bagi investor pemula yang masih ingin menambah investasi, strategi seperti Dollar–Cost Averaging (DCA) bisa membantu mengatur risiko. Dengan metode ini, Anda berinvestasi dalam jumlah tetap secara berkala, alih-alih berusaha menebak waktu paling rendah di pasar. Ini bisa membantu menurunkan harga rata-rata pembelian dalam jangka panjang.

5. Seleksi Saham dengan Hati-Hati jika Ingin Tambah Posisi

Penurunan pasar membuka peluang membeli saham dengan fundamental kuat tetapi turun harganya. Fokus pada perusahaan yang memiliki laba stabil, neraca sehat, dan prospek jangka panjang solid — bukan sekadar membeli karena harganya “murah”.

  1. Diversifikasi Portofolio dan Rebalancing

IHSG turun adalah momen yang baik untuk mengecek kembali diversifikasi portofolio Anda. Jangan terlalu mengandalkan satu sektor atau saham saja. Pastikan distribusi aset Anda sesuai dengan toleransi risiko dan tujuan investasi Anda. Rebalancing juga dapat dilakukan untuk menjaga komposisi sesuai rencana awal.

Exit mobile version