
Crystal Palace Raih Community Shield Perdana Dalam Sejarah
Crystal Palace Menorehkan Sejarah Gemilang Dengan Memenangkan Gelar FA Community Shield Pada 10 Agustus 2025 Untuk Pertama Kalinya. Dalam duel seru di Wembley, mereka menundukkan juara Liga Premier, Liverpool, lewat adu penalti dramatis usai bermain imbang 2–2 selama waktu normal.
Gol cepat datang dari debutan Hugo Ekitike untuk Liverpool di menit ke-4, namun Crystal Palace segera menyamakan skor lewat penalti Jean-Philippe Mateta pada menit ke-17. Liverpool kembali unggul melalui gol Jeremie Frimpong menit ke-21, sebelum Ismaïla Sarr menyamakan kedudukan di menit ke-77, memaksa pertandingan ke adu penalti.
Momen penentu terjadi di adu penalti: Dean Henderson tampil sebagai pahlawan, menghentikan tembakan Alexis Mac Allister dan Harvey Elliott, setelah Mohamed Salah sebelumnya gagal pada eksekusi pertama Liverpool. Presiden penalti kemenangan dicetak oleh Justin Devenny, pendatang baru yang menggantikan pemain dalam skuat.
Kemenangan ini menambah daftar trofi Palace yang fantastis: gelar FA Cup, kemudian menyusul Community Shield hanya tiga bulan setelahnya. Bagi klub yang jarang merasakan kejayaan besar, keberhasilan ini begitu berarti.
Analisis sepakbola menyoroti bahwa strategi yang konsisten dan stabilitas skuat menjadi kunci, sementara Liverpool dinilai terlalu mengandalkan pemain baru meski dibeli mahal. Palace, yang mempertahankan susunan pemain dari final FA Cup, menampilkan permainan disiplin dan sinergi matang.
Secara historis, Crystal Palace menjadi salah satu dari sedikit klub yang memenangkan Community Shield hanya di penampilan pertama mereka dalam kompetisi tersebut. Momen ini bukan hanya menandai keberhasilan klub di kancah domestik. Tetapi juga menunjukkan transformasi Palace menjadi kekuatan baru yang patut diperhitungkan di musim mendatang.
Crystal Palace Mengadopsi Gaya Bermain Yang Sangat Berbeda
Sejak Oliver Glasner menggantikan Roy Hodgson pada Februari 2024, Crystal Palace Mengadopsi Gaya Bermain Yang Sangat Berbeda: lebih dinamis, agresif, dan efektif. Formasi andalan adalah 3-4-2-1, dengan fokus pada pressing intensif, transisi cepat, dan penguasaan sayap oleh wing-back.
- Pressing dan Counter-Press yang Tegas
Begitu kehilangan bola, tim langsung menerapkan counter-press, berusaha merebut kembali penguasaan secepat mungkin. Strategi ini diperkuat oleh ukuran lapangan kecil Selhurst Park, sehingga efektif menekan lawan dengan lebih cepat. Pendekatan pressing agresif ini juga mendorong lawan melakukan kesalahan dan membuka kesempatan menyerang bagi Palace.
- Soliditas Defensif Lewat Back-Three dan Wing-Back Progresif
Skema tiga bek (contohnya Marc Guéhi dan Maxence Lacroix) memberikan stabilitas pertahanan, ditambah dengan wing-back seperti Daniel Muñoz dan Tyrick Mitchell yang aktif bergerak maju. Keduanya menjadi kreator utama peluang terbuka, mencatat angka tinggi dalam menciptakan peluang dan umpan silang. Konsistensi lini belakang juga tinggi, sedikit perubahan susunan pemain, meningkatkan kekompakan tim.
- Kreativitas di Zona Tengah dan Duet No. 10 yang Produktif
Eberechi Eze dan Ismaïla Sarr beroperasi sebagai double No. 10, menciptakan peluang dan mengendalikan tempo permainan dari area antara lini tengah dan depan. Jean-Philippe Mateta memperkuat area serang sebagai target man yang juga mahir menyelesaikan peluang.
- Taktik Adaptif di Ajang Final dan Laga Besar
Di final FA Cup 2025 melawan Manchester City, Glasner menyesuaikan formasi menjadi 5-2-3 bidang pertahanan kuat. Wing-backs di tarik lebih dalam, dan pemain seperti Mateta di instruksikan untuk meredam gelandang lawan. Strategi ini terbuktikan efektif menciptakan momen dan gol kemenangan.
Ringkasan Gaya Bermain
Formasi utama: 3-4-2-1, fleksibel di sesuaikan jadi 5-2-3 saat di butuhkan.
Filosofi: Tekanan tinggi (pressing dan counter-press), transisi cepat, agresif dalam penguasaan bola, dan efisien dalam serangan balik.
Elemen kunci: Wing-backs serba bisa yang menciptakan banyak peluang, double No. 10 kreatif di pusat permainan, serta stabilitas lini pertahanan prima.
Liverpool Gagal Mengawali Musim Dengan Gemilang Usai Kalah Di Eksekusi Penalti Melawan Palace
Liverpool Gagal Mengawali Musim Dengan Gemilang Usai Kalah Di Eksekusi Penalti Melawan Palace dalam laga Community Shield 2025. Pertandingan di Wembley berakhir imbang 2–2 dalam waktu normal sebelum Palace menjuarai adu penalti dengan skor 3–2.
Jalannya Pertandingan
Liverpool unggul terlebih dahulu lewat gol debutan Hugo Ekitike di menit ke-4. Namun Palace membalas melalui penalti matang yang di cetak oleh Jean-Philippe Mateta pada menit ke-17. Liverpool kembali unggul lewat Jeremie Frimpong di menit ke-21, tetapi Ismaïla Sarr memastikan hasil imbang 2–2 hingga akhir waktu normal.
Penentuan di Adu Penalti
Dalam babak adu penalti, Liverpool menderita kegagalan besar: Mohamed Salah, Alexis Mac Allister, dan Harvey Elliott semuanya gagal mencetak gol. Sementara itu, Palace berhasil memanfaatkan kesempatan mereka. Dengan pahlawan mereka adalah Justin Devenny, yang mencetak penalti kemenangan setelah dipasang sebagai pemain pengganti.
Reaksi dari Liverpool
Kapten Virgil van Dijk menilai hasil ini sebagai pelajaran penting. Ia menyatakan bahwa tim harus segera memperbaiki performa dan mengalihkan fokus ke laga Premier League melawan Bournemouth. Meski kecewa, Van Dijk tetap optimis akan musim yang akan datang.
Manajer Arne Slot juga mengakui bahwa timnya masih perlu memperkuat sektor pertahanan. Meskipun mencetak dua gol melalui pemain anyar, skema gelandang belakang belum solid, masalah yang harus segera ditangani sebelum musim kompetitif dimulai.
Liverpool memulai musim dengan kekalahan mengejutkan di Community Shield. Meski lini serang menampilkan potensi besar berkat kontribusi dari rekrutan baru, kelemahan defensif dan kegagalan di babak penalti menjadi sorotan tajam. Namun, optimisme tetap ada, dan laga selanjutnya melawan Bournemouth akan menjadi momen penting untuk membuktikan kesiapan mereka.
Kekalahan Liverpool Semalam Memicu Beragam Reaksi Dari Para Pendukung The Reds
Kekalahan Liverpool Semalam Memicu Beragam Reaksi Dari Para Pendukung The Reds di seluruh dunia. Di media sosial, terutama X (Twitter) dan Instagram, ribuan komentar membanjiri unggahan resmi klub. Mulai dari rasa kecewa, kritik terhadap performa tim, hingga dukungan moral agar skuad segera bangkit.
Sebagian fans menyoroti lini pertahanan yang di anggap kurang solid, terutama dalam mengantisipasi serangan cepat Crystal Palace. Banyak yang menyebut bahwa koordinasi antara bek dan kiper belum optimal, sehingga lawan mampu memanfaatkan celah dengan efektif. Beberapa pendukung juga mengkritik keputusan taktik manajer, yang di nilai kurang tepat dalam melakukan pergantian pemain di babak kedua.
Namun, tidak semua reaksi bernada negatif. Sejumlah fans memilih untuk tetap memberi semangat, mengingat Community Shield hanyalah laga pembuka musim dan bukan penentu utama prestasi di kompetisi panjang. Mereka mengingatkan sesama pendukung bahwa kekalahan seperti ini bisa menjadi pelajaran berharga untuk memperbaiki performa di Premier League dan ajang lainnya.
Di luar kritik taktis, banyak fans juga menyinggung masalah mental bertanding. Menurut mereka, tim terlihat kurang bertenaga dan kehilangan agresivitas yang biasanya menjadi ciri khas Liverpool. Beberapa pendukung setia berharap para pemain senior dapat memberikan motivasi ekstra bagi rekan-rekan muda di skuad.
Meskipun rasa kecewa jelas terasa, mayoritas fans tetap menunjukkan keyakinan pada kemampuan tim untuk bangkit. “Kami kalah malam ini, tapi musim masih panjang. This is Liverpool, we never walk alone,” tulis salah satu pendukung di kolom komentar.
Kekalahan dari Crystal Palace memang menjadi pukulan awal yang cukup menyesakkan, namun atmosfer di kalangan suporter menunjukkan bahwa dukungan tak akan surut. Bagi mereka, kemenangan memang menyenangkan, tetapi kesetiaan di saat sulit adalah esensi menjadi fans sejati. Kini, semua mata tertuju pada laga berikutnya untuk melihat bagaimana Liverpool merespons kekalahan ini di atas lapangan. Itulah tadi beberapa ulasan mengenai kemenangan Crystal Palace.